Perlindungan Hukum Masyarakat Adat atas Tanah Ulayat Pasca Berakhirnya Hak Guna Usaha dalam Perspektif Hukum Agraria Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.63822/za2thd52Keywords:
Customary Land Rights, Right to Cultivate, Legal ProtectionAbstract
indigenous law communities (masyarakat hukum adat) in Indonesia. Although the existence of these communities is constitutionally recognised under Article 18B(2) and Article 28I(3) of the 1945 Constitution and Article 3 of the Basic Agrarian Law (Law No. 5 of 1960), such recognition remains conditional and must accord with national development interests. Problems frequently arise when the State grants a Right of Cultivation (Hak Guna Usaha/HGU) over land that indigenous communities regard as their ulayat land, and further disputes emerge once the HGU expires, as the land's status becomes contested between the State and the indigenous claimants. This normative legal research examines the legal status of ulayat land after the expiry of HGU and the forms of legal protection owed to indigenous communities, using statutory, conceptual, and case approaches, illustrated by the ongoing dispute between the Ndonganeno–Weri Bone indigenous community and the local government over former HGU land of PT Kapas Indah Indonesia in Konawe Selatan. The study finds that the expiry of an HGU does not automatically extinguish a pre-existing ulayat relationship, and that the State bears an obligation to verify indigenous claims before classifying ex-HGU land as State land. Legal protection should combine preventive measures (recognition, identification, and mapping of ulayat territory) with repressive mechanisms (administrative objection and litigation before the State Administrative Court).
References
Andini. (2020). Akibat Hukum Hilangnya Hak Milik Atas Tanah yang Ditelantarkan. National Conference on Law Studies (NCOLS).
Anggita, A. (2024). Penyelesaian Sengketa Konflik Kepemilikan Tanah dengan Pendekatan Litigasi di Pengadilan Tata Usaha Negara. Savana: Indonesian Journal of Natural Resources and Environmental Law, 1(1), 24–38.
Ardiyanto. (2022). Kedudukan Hukum Pemegang Hak Tanggungan Atas Tanah Hak Guna Bangunan Di Atas Tanah Negara Yang Jangka Waktunya Telah Berakhir. Rechtldee, 17(2).
Gusliana, H. B., & Hanifah, M. (2016). Pola Perlindungan Hutan Adat Terhadap Masyarakat Adat Di Provinsi Riau Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Jurnal Hukum Respublica, 16(1), 183–200.
Irmayanti, A., dkk. (2024). Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Akibat Berakhirnya Jangka Waktu Hak Guna Bangunan Yang Dibebani Hak Tanggungan. Judge: Jurnal Hukum, 5(2).
Lestari, R., & Sukisno, D. (2021). Kajian Hak Ulayat Di Kabupaten Kampar Dalam Perspektif Peraturan Perundang-Undangan Dan Hukum Adat. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 28(1), 94–114.
Lubis, I., Siregar, T., Lubis, D. I. S., Adawiyah, R., & Lubis, A. H. (2025). Integrasi Hukum Adat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional: Tantangan Dan Solusi Dalam Pengakuan Hak Ulayat. Tunas Agraria, 8(2), 143–158.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group.
Parlindungan, A. P. (2001). Berakhirnya Hak-Hak Atas Tanah Menurut Sistem UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria). CV Mandar Maju.
Santoso, U. (2010). Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah. Kencana Prenada Media Group.
Sappe, S., dkk. (2021). Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik dan Penyelesaian Sengketa. Batulis Civil Law Review, 2(1), 78–92.
Sharfinda, N. M., Antikowati, & Prakoso, B. (2023). Kepastian Hukum Hak Guna Usaha di atas Hak Pengelolaan. Mimbar Yustitia: Jurnal Hukum dan Hak Asasi Manusia, 7(2), 144–162. https://doi.org/10.52166/mimbar.v7i2.5060
Syukrisna, D. A., Candrakirana, R., & Lukitasari, D. (2025). Perlindungan Hak Masyarakat Adat Atas Tanah Ulayat Pasca Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 14 Tahun 2024. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 4(12), 4157–4165.
Wulandari, R. (2026). Analisis Perlindungan Hak Masyarakat Adat Terkait HGU di Atas Tanah Ulayat Berdasarkan UUPA dan UU Minerba. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik, 6(5), 3666–3671. https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i5.8718
Zulkarnain, I., & Priskap, R. (2023). Implikasi Kebijakan Pemerintah Atas Pengakuan Dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam di Provinsi Jambi. Datin Law Jurnal, 4(1), 1–22. https://doi.org/10.36355/dlj.v4i1.968
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah.
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah.
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 14 Tahun 2024 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Masyarakat Hukum Adat.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat.
Sumber Dokumentasi Kasus (Pemberitaan)
Kicaunews.com. (2026, 3 Mei). Surat Bupati Konsel Picu Polemik, Ahli Waris Adat Ndonganeno Weribone Tempuh Jalur Hukum. Diakses dari https://kicaunews.com/2026/05/03/surat-bupati-konsel-picu-polemik-ahli-waris-adat-ndonganeno-weribone-tempuh-jalur-hukum/
LinkSultra.com. (2026, 10 Mei). Ahli Waris Ndonganeno Weribone Desak Presiden Prabowo Tinjau Ulang Status Tanah Eks HGU PT KII. Diakses dari https://linksultra.com/ahli-waris-ndonganeno-weribone-desak-presiden-prabowo-tinjau-ulang-status-tanah-eks-hgu-pt-kii/
Radar Kendari. (2026a, 10 Mei). Ritual Adat Metodeha Menggema di Konawe Selatan, Keturunan Ndonganeno Weribone Tegaskan Tolak Tanah Ulayat Jadi Tanah Negara. Diakses dari https://radarkendari.id/ritual-adat-metodeha-menggema-di-konawe-selatan-keturunan-ndonganeno-weribone-tegaskan-tolak-tanah-ulayat-jadi-tanah-negara/
Radar Kendari. (2026b, 3 Juni). Gugat Surat Bupati Konsel ke PTUN Kendari, Masyarakat Adat Ndonganeno Weribone Perjuangkan 1.046 Hektare Tanah Ulayat. Diakses dari https://radarkendari.id/gugat-surat-bupati-konsel-ke-ptun-kendari-masyarakat-adat-ndonganeno-weribone-perjuangkan-1-046-hektare-tanah-ulayat/
Sultratv Portal. (2026, 5 Mei). Momen HUT Konawe Selatan ke-23 Terciderai oleh Polemik Tanah Ulayat yang Diambil Negara Melalui Pemda. Diakses dari https://www.sultratv.id/momen-hut-konawe-selatan-ke-23-terciderai-oleh-polemik-tanah-ulayat-yang-diambil-negara-melalui-pemda/
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Satriani Satriani (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.




